Contoh
kasus Pelapisan sosial dan Kesamaan derajat misalnya
1. Risma Alfian, bocah pasangan Suharsono (25) dan Siti Rohmah (24), sudah empat belas bulan tergolek lemah di atas tempat tidurnya. Kepalanya yang terus membesar membuat Risma tidak bisa bangun. Sejak umur satu bulan, Risma sudah divonis terkena hydrocephalus (kelebihan cairan di otak manusia sehingga kepala penderita semakin besar).
Bidan tempatnya menerima imunisasi, meminta Risma segera menjalani operasi atas kelainan kepalanya itu. Operasi tidak serta merta bisa dilakukan lantaran butuh biaya yang begitu besar untuk mendanainya.
Bahkan dengan memiliki kartu Gakin yang diperolehnya dengan susah payah, juga tidak mampu bisa membawa Risma dalam perawatan medis. Risma ditolak RSCM lantaran tidak indikasi untuk dirawat.
Kesimpulannya:
Dari contoh kasus di atas bahwa Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat.
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi.
Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
Dari contoh kasus di atas bahwa Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat.
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi.
Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
1. 2. Ada juga kasus yang dibuat iklan oleh Thailand
yang terlihat seperti kehidupan nyata
Banyak orang
tunawisma berkeliaran di jalanan seputar kita hari ini. Ini bukan karena mereka
ingin tapi karena mereka tidak punya pilihan. Tidak semua orang diberi
kehidupan istimewa. Beberapa bahkan tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan
pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak untuk bertahan hidup.
Ketika sebagian dari kita melihat seorang tunawisma berpakaian seperti
orang ini dalam video, reaksi awal yang biasa kita lakukan adalah menjauh.
Ingat mereka adalah orang-orang juga, mereka hanya tidak memiliki sarana lebih
baik dari kita untuk mencari makan dan berlindung dari hujan dan panasnya terik
matahari.
Iklan menyentuh ini menunjukkan kepada kita bagaimana setiap orang
mempunyai sudut pandang berbeda dari apa yang terlihat. Pemilik toko akan terus
menyakitinya, berteriak padanya, dan mengusir dia pergi. Itu terjadi setiap
hari, tapi tunawisma itu tetap tidur di depan tokonya.
Tapi iklan ini bukan kekerasan, melainkan kebiasaan manusia yang biasa
kita temui sehari hari. Walau kita tidak pernah mengetahui apa yang dilakukan
orang lain terhadap diri kita sendiri. Pria tunawisma tersebut tidak marah
ketika di usir, karena dia sadar hanya menumpang tidur di halaman toko
pemiliknya.
Suatu hari sang pemilik toko tidak melihat pengemis tersebut di depan
toko. Ada yang aneh, kemana perginya sang pengemis selama 3 hari terakhir. Pemilik
toko mencoba memeriksa si pengemis dari rekaman CCTV selama. Sang pengemis yang
tidur tersebut ternyata menjadi penyelamat harta benda pemilik toko. Tokonya
selalu di lindungi, dari tukang pilox, yang iseng kencing di depan dan dia
membersihkan sampah di depan toko.
Ketika 2 pencuri mencoba membobol toko, naas pengemis sedang berada
disana dan dia menghadapi seorang sendiri. Ceritanya si pengemis menjadi korban
karena membantu orang lain yang membencinya, yang hanya memberikan tempat tidur
di depan emperan toko. Semua terekam dalam CCTV ketika terakhir kali pengemis
hendak tidur di depan toko yang galak.
Akhirnya si pemilik toko sadar, bahwa selama ini tokonya aman karena
dia. Dan dia juga yang menyelamatkan seluruh harta benda miliknya, walau si
pengemis harus kehilangan nyawa untuk membela.
Kesimpulan:
Terkadang kita dibutakan pada kebenaran, yang mana hal tersebut dapat
membuat kita menilai seseorang dari penampilannya. Padahal mereka memiliki hati
yang begitu mulia. Sebaiknya penjaga toko ini tidak sepatutnya memperlakukan
laki-laki kumal tersebut dengan tidak layak/ tidak manusiawi. Kita harus saling
tolong-menolong sesama manusia, tidak melihat status dan derajatnya
masing-masing melainkan mengikuti kata hati nurani kita. Oleh karena itu, video
ini menginspirasikan kita bahwasannya setiap orang yang berpakaian tidak layak
bukan berarti mereka tidak memiliki moral, etika, tanggung jawab, serta
kebaikan hati untuk saling menolong sesamanya. Hal ini juga tidak hanya berlaku
untuk manusia, tetapi terhadap semua makhluk hidup yang mana kita sama-sama
diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar